SELAMAT DATANG

SELAMAT DATANG DI BLOG Pon- Pes MIFTAHUL HUDA PESAWAHAN RAWALO BANYUMAS
Showing posts with label SANTRI MIFTAHUL HUDA RAWALO. Show all posts
Showing posts with label SANTRI MIFTAHUL HUDA RAWALO. Show all posts

Friday, January 10, 2020

KH ZAENI ILYA PENGASUH PP MIFTAHUL HUDA PESAWAHAN 94 TAHUN MENGABDI UNTUK AGAMA DAN BANGSA


https://www.youtube.com/channel/UCmPgjjrbIxvazZ603NlDl6w?view_as=subscriber
KH.Zaeni Ilyas Pengasuh PPMH Pesawahan
Kami Santri dan Alumni mengucapkan selamat kepada KH. Zaeni Ilyas pengasuh Pondok Pesanten Miftahul Huda Pesawahan Rawalo Banyumas yang telah mengabdi kepada Agam Bangsa dan Negara selama 94 tahun, semoga semngkin berkah dan selalu dalam keadann sehat selalu, tentunya diberi ke istikomahan dalam mengajari santri -santinya beserta masyarakat pesawahan khussusnya dan umumnya kepada semua manusia di alam jagd raway ini, AMN


KH. Zaeni Ilayas Merupakan Sosok yang 'Alim, Tawadu serta Wira’I selain itu beliau dikenal sebagai sosok yang Ahli Silaturahim, entah itu kepada Ulama ataupun pada orang biasa, saya sendiri pun sangat terharu bisa menyaksikan beliau sowan/Silaturahim ke beberapa alumninya pada saat itu beliau Silaturahim ke Rumahnay Ust.Nur Kholis (Lurah PPMH) di desa Jingkang Ajibarang Banyumas dan beberapa Alumni Lainya, secara tersirat beliau sedang memberikan Uswah Kepada kita semua sebagai santri dan alumni sesibuka apapun harus menyempatkan waktu untu Sowan ke pada gurunya itulah pelajarn penting yang harus kita petik.


Di Akhir Tahun 2019 Beliau Telah Silaturaim Ke Gurunya KH. Hadi bin Darda .alm Kab.Purworejo Jawatengah Bersama keluarga Besar PPPMH. Selain itu beliau memang sudah memiliki Agenda rutin setiap tahunya bersama para Alumni Silaturahim ke berapa gurunya di asaat Ada acara HAUL atau adan acara lain, di usia yang sudah sepuh tetapi jiwanya melebihi para jiwa jiwa muda. Baca Juga Artikel Ini Ditulis Oleh Ny Hj Umniatul Labibah,S.Thi Al-Hafidzoh 

Keseharianyaselain istikomah ngajibareng santri santrinya jua mengkaji kita bersama masyarakat yang model kanjinaya di tulis dengan tulisan jawa pegon ala pondok pesanten, kemudian di Fotocopy di bagikan secara gratis kepada jamaah dan alumninya, kajian tersebut di laksanakan setip malam Minggu, sudah banyak kitab yang beliau tulis untuk kajian malam minggu bersama masyarakat mulai dari kitab Fikih, kitab Hadis dan Kotab Tauhid dan beberapa kitab Sayairan


Di usia yang sudah tua bukan menjadi hambatan bagi bliau untuk terus tadim pada guru gurunya hari ini di ulangtahun nya ke 94 th ziarah ke makam gurunya KH.Ghozin Bendo Kediri Jawa Timur di Bebrapa Putranya serat di temani beberapa Alumni dan santri senior nya “Ucap Ust.Rohiman Almuni PPMH dari desa Pesawahan Yang Sekaligus Guru PAI di sekolah TEKOM MBM Rawalo.


Kitab yang beliau Tulis dangan Maknan Terjemah Pegon dianatarnya

Kitab Safinah 
Kitab Sulamunajat 
Kitab Sulamuntaufiq 
Kitab Jauhar Tauhid ( Bentu Syair) 
Kitab sanusiah 
Kitab Jurumiyah 
Kitab Imriti 
Kitab Alfiyah 
Kitab Maksud 
Kitab Jurumiyah Jawa 
Kitab Niyat ingsun ngaji 
Kitab Cawang Iman
Jika Ada Yang Tahu Silahkan Menambahi di kolom Komentar Terimaksih

Dan masih Bebrapa Kitab Lain Yang Belum saya ketahui khususnya kitab kitab yng di kaji di malam minggu bersama masyarakat dan alumni yang 100 % di tulis tangan secara istiqomah. Semoga allah selalu memberikan barokah padanya, amin.

Kitab Tersebut bisa di dapatkan melalui Foto Copy di ndalemnya Bu Nyai Hajah Umniatul Labibah, Beliyau juga sempat memposting di Gur FB nya 

Semoga Silaturahim Kaini berjalan dangan lancer dan di beri keselamatan kami sebagai alumninya mendapatkan luberan barohnya amin yarobal alamin
 Mohon Maaf jika Masih Banyka Kekeliruan dan kekuarangan dalam nenuslis
kami siap menerima saran dan kritiknya klik saran dan kritik di WA 
Pesawahan 11 januari 2020
Bay Al- Akhan Nur Rusman
FB Rusman
Yatube Cahaya Pesantren

Monday, August 5, 2019

Profil singkat KH Zaini Ilyas pengasuh Pon- Pes Miftahul Huda Rawalo Banyumas




      Putra dari KH Ilyas dan simbah nyai Hj.sholihah, lahir pada tanggal 11 januari 1932 di desa Pesawahan. Ayahnya, KH Ilyas adalah seorang kepala desa yang disegani karena ketegasannya dan kedermawanannya. Sebagai tokoh desa dan juga hartawan, KH Ilyas dikenal sangat dekat dengan para ulama. Beliau dikenal muhibbin, orang yang dekat dan senang bergaul dengan para ulama. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan seringnya beliau bersilaturahim, sowan ke kyai-kyai yang masyhur pada zaman itu. Begitu pula para habaib, biasa rawuh ke ndalem beliau untuk mendoakan dan memberi berkah.
       Kesholehan KH Ilyas sebagai tokoh agama juga dikenal masyarakatnya, dimana beliau sangat tegas dan bijak dalam mengajak maasyarakatnya untuk sholat lima waktu. Selain itu melalui zakat mal, beliau juga berupaya mengentaskan kesulitan ekonomi masyarakat sekitar dan sekaligus menjadi media dakwah. Kedekatan KH ilyas dengan masyarakat juga terlihat dimana banyak masyarakat sekitar yang apabila mengalami masalah baik ekonomi auatupun lainnya datang kepada beliau untuk mencari solusi.
          Kecintaan KH Ilyas juga ditunjukkan dengan mengirim putra-putra beliau ke pesantren, diantaranya adalah KH Amir dan KH zaini Ilyas. KH zaini ilyas adalah putra terakhir KH Ilyas yang saat ini menjadi pengasuh PP Miftahul Huda Pesawahan.
Setelah ngaji ala kampung, pada tahun 1947 KH zaini Ilmyas muda dipondokkan oleh ayahnya di PP Mafatihul Huda Jampes Kediri untuk berguru pada Syekh Ikhsan. Setahun berada di sana, ibu tercinta meninggal dunia, hingga akhirnya beliau pulang ke rumah untuk beberapa waktu.
    Setelah ditinggal ibunda tercinta, KH Zaini Ilyas muda di kirim lagi ke pesantren oleh ayahnya. Kali ini di pilihlah Pondok Pesantren al Ihya ulumaddin Kesugihan untuk berguru pada KH Badawi Hanafi, tokoh ulama dan mursyid thorikoh yang masyhur kala itu di daerah Cilacap dan Banyumas, yang kemudian hari menjadi ayah mertuanya. Di kesugihan, beliau mesantren selama 3 tahun. Ketika mesantren disini, sudah terlihat kecerdasan dan kengaliman beliau. Diantaranya beliau ngaji sampai kelas alfiyah dimana tidak banyak teman sebayanya yang mencapai kelas ini. Bahkan, oleh guru nahwunya, yaitu kyai Hadi, beliau sering diminta mbadali ngajar nahwu, baik alfiyah maupun lainnya ketika kyai hadi yang merupakan pengurus pondok saat itu, berhalangan.

         Bukan hanya itu, keistimewaan KH Zaini Ilyas muda kemudian diketahui oleh putra pengasuh pondok, yaitu oleh K Muhammad Badawi yang menceritakan perihal prestasi KH Zaini ilyas muda pada ayahnya. Alhasil, oleh KH Badawi Hanafi, KH Zaini Ilyas muda ditimbali khusus kemudian di beri kesempatan untuk ngaji langsung pada beliau.
         Setelah tiga tahun belajar di pondok kesugihan pada KH Badawi Hanafi, KH Zaini Ilyas kembali meneruskan perjalanan mesantrennya dengan kembali lagi ke jampes untuk kembali berguru pada Syeh Ikhsan. Beliau menghabiskan waktu tiga tahun mesantren pada syeh ihsan. Di jampes, Pendidikan yang ditempuh sampai tingkat Aliyah. Disini pun, keistimewaan KH Zaini mencuri perhatian para pengasuhnya. Diantaranya adalah beliau langsung diminta untuk ikut menjadi pengajar di pesantren tersebut. Bahkan oleh gus Muhammad, putra syekh Ikhsan, KH zaini Ilyas ditunjuk langsung untuk menjadi lurah pondok.
       Selama di jampes, KH zaini ilyas juga pernah ngaji jolok ilmu falak pada Kyai masduki yang merupakan alumni pondok jampes, secara jolok yaitu di laju dari pondok jampes ke ndalemnya kyai masduki di desa Minggiran yang berjarak kurang lebih tiga kilometer dari jampes.
Saat masih di Jampes, KH Zaini Ilyas mendengar cerita tentang sosok kyai Masduki, pengasuh Pondok Pesantren al-Islah Lasem yang dikenal sangat alim, ahli hadist dan juga ahli tafsir. Di gambarkan, jika sedang mengaji semua kitab tafsir diterangkan dengan hapal dan gambling oleh beliau. Kyai masduki adalah alumni pondok tremas. Selain sangat alim, beliau adalah saudagar sukses yang sukses pula membangu pondoknya saat itu. Beliau juga terkenal kewaliannya. Banyak cerita-cerita tentang kewaliyannya beredar. Bahkan, diantaranya KH Zaini Ilyas sendiri pernah membuktikan. Dimana saat KH Zaini Ilyas merasa ada sedikit kekurang sreg-an dengan Kyai Masduki yang sedikit memunculkan suudzon, KH zaini Ilyas langsung dimimpikan dimana KH Masduki tidak kerso salaman. Hal ini kemudian menjadi pelajaran berharga bagi beliau dimana belajar dan mondok harus menata niatnya, harus husnudzon pada guru agar memperoleh ridlo guru.
            Di lasem, beliau cukup lama, yaitu kurang lebih 5 tahun. Selama di Lasem, beliau pun pernah mengaji kilatan puasaan ke kediri yaitu ngaji pada kyai Zuweni Nuh di Pare Kediri yang merupakan alumni tebuireng. Dua kali kilatan puasa di sana khusus untuk ngaji kitab shohih bukhori pada kali waktu, dan kitab shohih muslim pada waktu lain.
           Setelah lima tahun di Jampes, beliau kembali ke pondok kesugihan. Di sinilah kemudian, KH Zaini Ilyas menutup masa lajangnya dengan menikahi putri kyai nya yaitu, Ny.Hj.Mutasingah Badawi. KH Badawi Hanafi yang sudah akrab dengan KH Ilyas, kemudian asepakat menjodohkan putra-putri mereka, sampai beberapa kali rembukan acara pernikahan. Pada suatu hari, yaitu hari kamis, pada saat rembuk acara pernikahan berlangsung, tiba-tiba kyai Badawi ngendika supaya rembukan tersebut harus selesai, karena beliau tidak akan menangi. Dan ternyata keesokan harinya kyai Badawi wafat. Sehingga pada kemudian hari pernikahan putrinya di walikan oleh KH Mustholih Badawi, kakak dari Ny. Hj.Mutasingah.
 Setelah menikah, KH Zaini ilyas belum langsung boyong, baru setelah 3 tahun, yaitu tahun 1963 beliau memboyong istrinya yang juga putri kyainya, yaitu Ny.Hj.Mutasingah Badawi ke desa Pesawahan. Seboyongnya KH Zaini Ilyas ini, ada beberapa santri kesugihan yang ikut yang kemudian menjadi cikal bakal santri dari pesantren Miftahul Huda kelak. Diantara santri yang pertama adalah kyai adzro’i dari jawa timur. Berjalannya dengan waktu, santri-santri dari KH Sya’roni pondok sidamulih yang secara letak geografis adalah tetangga desa, banyak yang jolok ngaji ke KH Zaini Ilyas. Diantara santri-santri jolok tersebut ada Prof mubarok, Prof Wahib mu’thi alm. Lambat laun santri dari berbagai daerah datang untuk ngaji pada beliau. Pesantrennya pun kemudian berkembang dengan nama pondok pesantren Miftahul Huda Pesawahan.
Demikian perjalanan beliau KH Zaini Ilyas yang mengawali berdirinya pondok pesantren Miftahul Huda Pesawahan
Sumber ibu nyai fb  Umni Labeb

Monday, March 4, 2019


DAFTAR SANTRI DI PONDOK MIFTAHUL HUDA PUSAT TAHUN PELAJARN 2018/2019
Santri Ponpes Miftahul Huda Rawalo Banyumas 


1.            Abwi Slamet Nur Utami
2.            Adinda Prasanti
3.            Ae Nur Aeni
4.            Afifatullisa Ngadatil Uhrowiyah
5.            Afirotur Rohmah
6.            Alfinatus Zahro Fitriani
7.            Amifta Nur Fadilah
8.            Anggi Ariyanti
9.            Anggi Laelatul M.
10.       Ani Warohmah
11.       Anisatul Husniyah
12.       Annisa Rizki Diani
13.       Asfiya Lubna S.
14.       Atin Zahrotun Nisa
15.       Ayu Amalia Hani
16.       Banat Aniatul Husna
17.       Bela Mukti
18.       Belinda Putri
19.       Choerun Mardiyah
20.       Cindi Anita
21.       Dina Kamilatul Munawaroh
22.       Dyah Tifana
23.       Eka Nuri Laelatul M.
24.       Eka Purwanti
25.       Emaliana Romadhona
26.       Emiliani Romadhoni
27.       Fathiyana Zahro Wijiyanti
28.       Fedia Merliana
29.       Futihatun Rohmaniyah
30.       Gina Sonia Safitri
31.       Henifatur Rohmah
32.       Hidayatul M
33.       Ida Mufliha
34.       Ika Pujiati
35.       Ina Zania
36.       Istinganatun
37.       Isyatur Rodiyatul M.
38.       Jahrotul Lulu'ul Husna
39.       Khafiyatul Kh.
40.       Khofidlotur Rofi'ah
41.       Kholifatun Ni'mah
42.       Klarisa Ayu N. P
43.       Laela Nur H.
44.       Laelatul Karimah
45.       Laelatus Solihah
46.       Laeli Ani Musfiroh
47.       Laeli Faiqotun Ni'mah
48.       Lina Wasilatun Najah
49.       Mar'ah Qonita
50.       Muhimmatuz Zahro
51.       Munawaroh
52.       Murni Riyaningsih
53.       Mutingah
54.       Naelul Khal Karimah
55.       Najmah Dwi Salsabila
56.       Narisma Rahayu
57.       Nida'ul Khoeriyah
58.       Nunik Zahirotul Hikmah
59.       Nur 'Aeni
60.       Nur Anisatul A'yuni
61.       Nurul Khasanah
62.       Nurul Ngafifah
63.       Oka Lestari Handayani
64.       Puspita Sayidina A.
65.       Riha Maria Ulfa
66.       Rizki Rahma Sari
67.       Seftiani Rahmawati
68.       Siti Maghfiroh
69.       Siti Umrotul Khasanah
70.       Sokhimah
71.       Talitha Amaya
72.       Tiara Habibatuz Zulfa
73.       Toriqotul Jannah
74.       Tri Hapsari Nanda Permadi
75.       Umu Najwa Amini
76.       Una Sulistiyani
77.       Uswatun Khasanah
78.       Yuni Kurotul 'Aini
79.       Umi Roikhatul Jannah
80.       Viyorina I'anatus S
81.       Wafirotun Nikmah
82.       Wahidatul Umayah
83.       Yeti Rahmawati
84.       Ainun Azkiya Abdul Hadi
85.       Alfi Nur 'Aeni
86.       Amaliah Nur Hasanah
87.       Amelia Mufli
88.       Amelia Puspita Anggraeni
89.       Aminahta Zuhriyah
90.       Anifatus Sariroh
91.       Anisa Aulia
92.       Anisa Ayu Triana
93.       Anisa Puspita Sari
94.       Arina Manasikana
95.       Asna Nursaidah
96.       Assifaun Nisa
97.       Choerun Nisya
98.       Devalif Salsaril Mala
99.       Devita Nur Alifa
100.  Dewi Novia Firdaus
101.  Diana Oktavia
102.  Difa Putri Firdausi
103.  Eka Parwati
104.  Eka Sari Mulyani
105.  Eti Supriyanti
106.  Faizul Baeti
107.  Farisa Lili Puspita Sari
108.  Fidhya Handayani
109.  Fikriah Abdillah
110.  Hania Aribatul Mardhina
111.  Hasna Kamalia Hakim
112.  Henita Fathatul Janah
113.  Imroatun Fasihah
114.  Inayatul Islamiyah
115.  Indri Parwati
116.  Intan Adhani Aurora
117.  Intan Muslehani
118.  Irmawati
119.  Istiqomah
120.  Kholifatun Nisa
121.  Laela Saniyatul M
122.  Laelatul Fitriyah
123.  Latifatun Nikmah
124.  Lin Sururoh
125.  Lu'lu Amalia
126.  Lu'lu Atik Fitriyani
127.  Lusi Rahmawati
128.  Maa'unatus Sa'diyah
129.  Mangisatul Hasanah
130.  Miftahul Fauziyah
131.  Nabila Alfin Najwa
132.  Naela Nissa Usyahroh
133.  Nafisatul Qibtiyah
134.  Nahdatul Syarifah
135.  Nanda Nur Oktavia Ningrum
136.  Nila Lu'luur Rohmah
137.  Ni'matul Hasanah
138.  Ni'matun Nisa
139.  Nur Hidayah
140.  Nur Isnaini
141.  Nurma Istiqomah
142.  Nurul Azizah
143.  Nurul Fitroh
144.  Qurrota A'yunin
145.  Rini Agustin
146.  Riris Setia Ningsih
147.  Riska Ananda
148.  Rusmini Handayani
149.  Saidini Laila Mala
150.  Sangadah
151.  Saniatul Ulwiyah
152.  Sekar Jernih Isnaeni
153.  Silmi Badriyah
154.  Siti Alfatimah
155.  Siti Iqbalun Najjah
156.  Siti Munawaroh
157.  Siti Munfariqoh
158.  Siti Nur Khofifah
159.  Siti Samrotun Fadilah
160.  Siti Wahidatun Rohmah
161.  Sofiatul Fikri
162.  Syarifatul 'Aeni
163.  Titi Nila Irsyadah
164.  Tri Isnaini D. S. T.
165.  Ulfi Fajriyatul M